Asuransi Sebagai Alat Transfer Resiko (1)

Transfer Resiko1

Asuransi adalah salah satu alat transfer resiko baik yang sifatnya perorangan maupun kelompok atau pun perusahaan.

Resiko adalah ketidakpastian akan hasil atau akibat, baik dari mengejar suatu kesempatan positif masa mendatang atau adanya ancaman negatif dalam mencapai tujuan saat ini. Namun pada umumnya resiko dianggap sebagai akibat potensial yang negatif atas hal-hal tertentu yang mungkin timbul pada masa mendatang.

Misal resiko seseorang yang naik sepeda motor di jalan raya: bisa jatuh sendiri karena kehilangan keseimbangan, tabrakan dengan pejalan kaki atau trotoar atau mobil/ sepeda motor atau pot halaman orang, luka badan akibat jatuh ke jalanan aspal yang berlubang.

Resiko – resiko tersebut cenderung mengarah negatif atau menimbulkan kerugian baik terhadap pengendara sepeda motor, sepeda motor, orang lain maupun harta benda orang lain. Kerugian ini akan menimbulkan biaya-biaya untuk pemulihan untuk barang yang rusak atau badan orang yang luka-luka yang ditanggung sendiri oleh pengendara sepeda motor.

Biaya-biaya kerugian tersebut dapat dipindahkan dengan alat transfer yang namanya ASURANSI dengan ketentuan pengendara sepeda harus membayar sejumlah uang jaminan di awal atau premi. Uang jaminan ini umumnya kisarannya adalah prosentasi dari nilai kerugian yang mau kita transfer.

Misal untuk kerusakan/kehilangan sepeda motor senilai Rp 5 juta, untuk luka badan/ kecelakaan senilai Rp 5 juta dan kematian Rp 5 juta serta untuk tuntutan kerugian orang lain maksimum senilai Rp 2 juta. Nilai ini semua disebut nilai pertanggungan. Makin besar nilai pertanggungan maka makin besar resiko yang ditransfer sehingga makin besar juga premi yang dikenakan.

Misalkan setelah diperhitungkan oleh perusahaan asuransi, mulai dari besaran nilai, perilaku pengendara, tujuan pemakaian sepeda motor, usia sepeda motor dan pengendara maka ditetapkan preminya selama 1 tahun:

  1. untuk kerusakan sepeda motor Rp 90.000 (1,80 % dari Rp 5 juta), dengan tambahan jaminan
  2. untuk kecelakaan dan kematian untuk pengendara Rp 25,000 (0,5 % dari Rp 5 juta)
  3. serta untuk tuntutan orang lain Rp 20.000 (1% dari Rp 2 juta).

Total premi yang dibayarkan adalah Rp 135,000 untuk 1 tahun.

Andai selama dalam periode 1 tahun, saat pertengahan tahun, terjadi musibah kehilangan sepeda maka perusahaan asuransi akan mengganti sepeda motor maksimum Rp 5 juta. Berdasarkan harga pasar, perusahaan asuransi mengganti senilai Rp 5 juta dikurangi potongan resiko sendiri misal Rp 200,000 maka dibayarkan Rp 4,800,000.

Tanpa asuransi maka pengendara sepeda motor menanggung kerugian senilai Rp 5juta sama sekali. Dengan berasuransi dia hanya memberikan jaminan Rp 135,000 untuk mendapatkan pemulihan posisi keuangan maksimal Rp 5 juta. Berarti dengan pengeluaran untuk transfer resiko kehilangan atau jaminan senilai 1,80 % ( Rp 90,000 / Rp 4,800,000) mendapatkan prosentase pemulihan keuangan sekitar 98,20 % atau mendekati 100%.

Inilah untungnya berasuransi sebagai alat transfer resiko. Pada keadaan umum, kita saat mengalami musibah kerugian uang senilai Rp 5 juta. Namun dengan asuransi kita hanya menjaminkan Rp 90,000 dan menanggung resiko sendiri Rp 200,000 sehingga total Rp 290,000.

Manakah yang kamu pilih bila kejadian ini terjadi: kehilangan sepeda motor dan tidak ada uang yang diperoleh (menangung resiko 100 %) atau kehilangan sepeda motor namun masih memperoleh uang (hanya membayar jaminan dan menanggung resiko yang sangat kecil hingga 2 %).

Bersambung ke bagian kedua….

Jakarta,19 Juli 2016

Salam Amanasurransi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s